Toilet Training Untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

February 04, 2017

Tips Toilet Training Untuk Anak Berkebutuhan Khusus (Special Needs)
Toilet Training Untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) - Masa transisi dari popok ke toilet merupakan milestone besar buat balita. Usia normal untuk melakukan toilet training sih 1 sampai 3 tahun (dari yang saya baca di google). Tapi untuk anak berkebutuhan khusus. Usia bukanlah sebuah patokan. Bahkan ada yang berusia belasan tahun tapi tetap harus pakai diapers. Kenapa? ya karena mereka belum bisa mengurus diri mereka sendiri. Belum mampu mandiri dan harus di bantu.
Ada banyak manfaat mengajarkan anak pergi ke toilet sendiri. Selain melatih kemandirian mereka, orangtua juga bisa hemat biaya bulanan ^^ jatah belanja untuk beli diapers jadi berkurang. Selain itu, anak bisa berjalan normal. Karena kalau kelamaan pakai diapers, jalannya juga gak bagus (ngangkang). Kayak Nia waktu belajar jalan dulu.

Toilet Training bagi kebanyakan orangtua mungkin adalah hal yang wajar di lakukan ketika balita mulai atau sedang belajar berjalan. Tapi bagi orangtua dengan special needs children. Toilet Training adalah tantangan luar biasa. Harus berjuang dengan waktu, kesabaran dan ketelatenan yang ekstra.

Saya bersyukur, Nia yang dulu sangat tergantung pada diapers, sekarang hanya memakainya waktu tidur malam saja. Kenapa? karena kalau paginya masih harus jemur kasur atau nyuci selimut + pakaian yang kena ompol. Bakalan telat sekolahnya ^^ hehehehe. Itu juga karena saran dari ibu saya yang maksa banget supaya Nia di-pampers-in kalau tidur. Biar paginya gak ribet dan bisa ke sekolah tepat waktu.

Ngomong soal Nia, dia adalah adik kembar saya yang lahir 'Down Syndrome'. Tapi kembarannya (Hani) normal. Nia baru lepas dari diapers ketika usia 7 tahun (atau sekitar dua tahun lalu). Dan itu berat banget moms, mulai dari yang jaga waktu banget biar waktu pipisnya gak kelewat, harus ngontrol ekspresi Nia kalau aja dia kasih kode mau buang air kecil atau BAB. Dan ya, cerita seru sekaligus menyebalkan lainnya ketika memantapkan hati untuk melatih Nia pergi ke toilet sendiri sudah jadi pengalaman manis dalam hidup saya sebagai kakak nya :)

Kalau kata si emak (nenek saya) dan orang-orang jaman dulu. Balita harus di ajari pipis dan pergi sendiri ke kamar mandi. Caranya dengan di tatur. Dalam bahasa jawa, di tatur itu artinya menyuruh atau mengajak anak pipis ke kamar mandi sesuai waktu yang di jadwalkan. Misalkan sejam sekali. Supaya nantinya mereka terbiasa langsung ke kamar mandi kalau udah kebelet. Atau mau kasih tahu kalau udah gak tahan mau pipis atau pups.

Pertama saya melatih Nia untuk toilet training. susahnya minta ampun. Selain cara membimbing anak berkebutuhan khusus dengan membimbing anak normal jauh berbeda. Tapi saya tetap optimis. Dari yang cuma main air doang di kamar mandi, pura-pura udah pipis padahal enggak, alasan nangkep ikan lah, minta sabun lah. Dan setelah keluar dari kamar mandi, baru jalan beberapa langkah, dia malah ngompol. Ada yang punya pengalaman kayak gini juga gak sih?? gondok banget, kan! tapi kudu sabar. Banyak-banyakin ngelus dodo pokoknya :|

Huft... tapi semua ibu, mama, bunda, mami, umi, emak atau apalah sebutannya. Kalian pasti bisa menjadi guru dan pengasuh yang baik untuk si buah hati. *Eh, kakak juga bisa loh gantiin peran ibunya atau bantu buat ngasuh si adik. Kayak saya ini. Iya, kan (tetep bela diri) ^^ Dengan kesabaran ekstra, ketelatenan yang luar biasa serta konsisteni yang terjaga. Toilet training pasti berhasil. Entah itu untuk anak normal atau anak berkebutuhan khusus (biasanya untuk anak yang sudah mampu dan bisa berjalan). Masa-masa pahit selama toilet training bakal jadi pengalaman berharga dan kenangan yang indah pada suatu hati nanti.

Berikut Tips Toilet Training untuk Anak Berkebutuhan Khusus versi saya :

  1. Perhatikan kesiapan si anak
  2. Atur Jadwal ke kamar mandi
  3. Pakai cara seru
  4. Dampingi dan terus beri mereka dukungan
  5. Ajari anak supaya memberi tanda atau kode kalau udah kebelet
  6. Bantu mereka ke kamar mandi
  7. Jangan marahi kalau misal si anak takut atau merasa tidak nyaman saat pertama kali melakukan toilet training
  8. Biasakan anak untuk membuka celana di kamar mandi dan bukan di sembarang tempat
  9. Beri Pujian untuk menumbuhkan rasa berani dan percaya diri. Yakinkan mereka kalau semua nya aman dan akan baik-baik saja
  10. Konsisten
Kalau tips di atas masih belum berhasil bikin anak mau pipis atau BAB di kamar mandi, berarti moms harus perhatikan beberapa point dibawah ini. Siapa tahu aja ada yang cocok dengan tingkah laku si anak. Anak normal atau berkebutuhan khusus sama-sama membutuhkan kepercayaan diri dan rasa nyaman ketika melakukan sesuatu yang baru. Iya, kan? Supaya Toilet Training berjalan lancar meski pakek drama mainan air dan banyak alesan sampai ngompol di celana karena kelamaan debat. Moms, harus banyakin kadar sabar dengan level maksimal ya ^^.

Beberapa Hal yang Harus Diperhatikan sebelum Melatih Anak melakukan Toilet Training :


1. Awareness dalam Diri Anak


Mungkin bagi si anak, kita (ibu, ayah, kakak, om atau tante) merupakan malaikat pelindung dan benteng keamanan mereka. Maka, sebagai bentuk caregiver, kita harus mengetahui sinyal-sinyal kapan si anak harus pergi ke toilet. Misal saat anak memegang celana atau nunjuk ke arah belakang (kamar mandi), melihat ekpresi wajah mereka yang kayak orang ngeden (kalo kebelet BAB mungkin ^^), anak mendadak jadi rewel, atau tanda lainnya yang setiap anak jelas berbeda.

2. Waktu ke Toilet


Nah, yang ini sangat penting. Tujuannya supaya anak gak sampai ngompol atau pipis di sembarang tempat. Juga melatih konsistensi si ibu (pengasuh) dalam melakukan toilet training. Seperti yang sudah saya singgung di atas. Interval waktu anak ke kamar mandi itu harus di perhatikan. Kadang anak yang kebanyakan minum bisa se-jam dua kali ke kamar mandi. Atau malah tiga kali. Tapi, kalau waktu terakhir ke toilet si anak gak buang air, berarti dia belum kebelet. Maka waktu ke toilet berikutnya harus di percepat 15 atau 30 menit.

Misal, jam 09.00 si Nia ke kamar mandi tapi gak pipis. Cuma main air doang. Berarti, dia harus kembali ke kamar mandi pukul 09.15 atau 09.30. Kalau misal Nia ke kamar mandi lagi pukul 10.00 sesuai jadwal semula, bisa-bisa dia ngompol. Karena apa, karena waktu terakhir ke toilet dia gak pipis. Cuma main air. Dan moms, kalian harus bener-bener sabar untuk menghadapi anak yang sedang  toilet training ini. Especially for moms with Special Needs Children :)

3. Pengenalan Kamar Mandi


Kalau biasanya pakai diapers, maka anak yang akan melakukan toilet training harus di kenalkan dulu dengan barang-barang yang ada di dalam kamar mandi. Seperti gayung, air, sabun, kloset dan lain sebagainya. Kalau memang harus, tempel beberapa gambar visual untuk menerangkan fungsi dan kegunaan benda-benda yang ada di kamar mandi. Gak segampang membalikkan telapak tangan sih. Tapi kudu sabar dan dilatih berkali-kali. Supaya mereka ingat dan mengerti jika harus pergi ke kamar mandi sendiri. Ini juga untuk melatih kemandirian mereka.

4. Dukungan


Dan yang terakhir, SUPPORT! Ini adalah modal utama ketika kita harus mengajari anak sesuatu yang baru. Seperti toilet training ini. Jangan marahi si anak kalau misal dia merasa tidak nyaman dengan kamar mandi. Moms harus sabar menunggu mereka selesai. Jangan digertak-gertak supaya cepetan. Bisa-bisa gak jadi kebelet *eh :) Kasih hadiah kalau toilet training nya sukses. Atau, senyuman dan pelukan kecil sudah cukup menenangkan bagi anak yang sedang memulai sesuatu yang baru.

Nah, kalau semua sudah oke. Berarti tinggal konsistensi kita aja. Kecuali si anak sedang sakit, boleh lah kita pake-in diapers lagi. Tapi setelah sembuh dari sakitnya, maka semua harus kembali normal tanpa diapers. Gak sampek setahun juga kok. Palingan beberapa minggu atau beberapa bulan aja, si anak udah bisa ke toilet secara mandiri dan buang air sendiri. Itu sih yang saya praktekkin ke Nia. Dan alhamdulillah berhasil :)

Meski setiap anak penanganan nya berbeda, tapi apapun kalau dilakukan dengan sabar dan ikhlas, pasti berhasil kok. Bukan berarti saya  gak pernah gondok ya pas ngajarin Nia Toilet Training. Darah tinggi malah ^^ Tapi tidak ada perjuangan yang sia-sia, kan? *itu sih kata pepatah :) hehehehe

Eh, ada yang punya cara atau tips beda gak pas mau mulai Toilet Training untuk Balita?? share dong, sekalian curhat juga gak papa ^^. Makasih ya udah baca tulisan pertama saya di blog baru ini. Semoga bermanfaat dan jangan lupa tinggalin jejak di kolom komentar. Thanks gaes, see you *kiss kiss kiss

Another Catchy Story

11 komentar

  1. Masya Allah, kakak yang luar biasa ya. Sama pintarnya dengan mereka yang terbiasa ngurus anak. Eh apa memang udah punya anak ya, mba? Semoga dek Nia dan Hani juga makin pintar dan sehat2 terus ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi kakak yg baik dulu, baru nanti belajar jd ibu yg baik :) makasih mbak

      Delete
  2. Aku malah tak bisa kasih masukan apa apa mbak...malah aku belajar dari caranya mbak melatih Nia buat toilet training :) Nice tips :)

    ReplyDelete
  3. Konsistensi emang penting ya mbak. Anakku jg kugituin, aku bilang mending BAB di celana aja, bunda gak pakein pempe lg. Emang kejem tp lama2 dia ngerti hehe TFS

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, kalau kita nya males-malesan. Gak bakalan berhasil toilet training nya. Itu aja nia dah pake segala macam cara dan bujuk rayu biar berhasil :)

      Delete
  4. Salah satu cara yang saya lakukan dulu adalah tidak membiasakan anak menggunakan diaper saat di rumah. Memang sih awalnya repot karena BAK dan BAB di mana-mana. Tapi anak-anak saya jadi tau kalau kulitnya basah atau lengket karena urine atau kotoran.

    Biasanya mereka suka rewel kalau gak segera diganti. Berbeda ketika memakai diapers. Mereka tenang aja meskipun sudah BAB/BAK di diapers. Nah, saat rewel itu pelan-pelan saya kenalkan toilet training. Saya ajarkan mereka untuk belajar bilang bila mau BAB/BAK. Jadi bisa segera ke toilet :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, biasanya, anak atau balita bakal ngerti kalo udah ngerasa risih sama kotoran atau air kencing nya sendirD. dari situ, bisa deh kita arahkan untuk ke toilet supaya belajar mandiri

      Delete
  5. Hi mba keren banget mba sbg kaka begitu telaten urusin adiknya. aku jg pny anak pas toilet training duh emang butuh sabar dan konsisten. aku pernah alamin kyk kejadian Nia lama di toilet ga pipis begiu keluar pipis lgsg esmosi 😁

    ReplyDelete
  6. Salut ama kamu mba.. Telaten banget ama adikmu :) . Aku aja yg beda umur ama adekku jg lumayan jauh, kyknya ga prnh sampe hrs bantuin toilet trainingnya segala dulu -_- .

    Masalah toilet training, anakku yg prtama lulus di umur 2.5 thn. Yg kedua blm nih. Krn umurnya msh 1.5 dan dia blm bisa ngomong. Beda ama kakanya yg lbh ceriwis. Makanya aku blm mau latihan toilet dulu, krn anaknya jg blm bs ksh tau kapan dia mau pup ato pipis..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbak :) Tapi meski jarah kita jauh, bapak kita juga beda. Mereka kan tetepa adik-adik aku ^^ Dulu sempet di larang sama ibuk karena takut aku kerepotan. Aku maksa aja, alasannya sih supaya nanti jalan nya bagus. Kalau kelamaan pakai diapers kan juga berpengaruh sama cara jalan nya mbak :) Lagian, pakai diapers juga banyak makan uang ^^

      Delete

Hai, terima kasih sudah berkunjung. Setiap komentar akan di moderasi ya. NO LIVE LINK, oke!! 😜 So, jadilah komentator yang bijak dengan pesan yang sopan dan membangun 😗 For Business Inquiries or ask something important and urgent. Can directly email me at heizyi.business@gmail.com 🙏 Enjoy 🙏

About Me

Like us on Facebook