Mencintaimu ibarat tenggelam pada perjudian yang tak pernah bisa dimenangkan.
Setiap kesempatan, aku anggap peluang. Setiap harap, menjadi doa semoga menang. Tetapi semuanya selalu berakhir sebagai luka yang tak ingin kuakui.
Kamu tahu, setiap hari aku berusaha terlalu keras untuk sesuatu yang tak pernah benar-benar memilihku. Kucoba raba hatimu, namun indra ku seolah mati rasa. Dimana setiap percobaan nya membuatku bertemu jalan buntu.
Kemudian aku kembali mencoba. Kali ini berusaha lebih tenang sembari bertahan dalam diam. Hingga pada akhirnya aku harus menerima kenyataan yang mungkin sejak awal telah kamu bisikkan, tapi sialnya selalu kusangkal --tidak semua cinta ditakdirkan untuk bisa dimenangkan!
Seperti bunga yang layu perlahan, aku tahu nasibku begitu malang. Sebab mencintaimu hanya membuatku terus menunggu, lalu berharap akan sebuah kemustahilan.
Akan tetapi, permainan ini begitu candu sampai-sampai aku sulit untuk berhenti. Padahal waktu tidak memberi kesempatan untuk mengulang, tapi aku tetap berjuang dan kembali runtuh dengan cara yang sama.
Kini ketika logika mengambil alih, aku memutuskan undur diri dari permainan yang kumulai sendiri. Setiap chapter berisi tenunan namamu pun telah ku kututup rapat. Semoga di permainan selanjutnya, aku lah pemenang yang tidak lagi ketakutan karena keheningan.
Baca Juga: Pemuda Berkaus Ungu











Analogi cinta dengan perjudian terasa emosional dan jujur, menggambarkan risiko, harapan, serta keberanian yang sering muncul dalam hubungan manusia, hehehe
ReplyDeleteUdah lama gk baca diksi yang indah seperti ini. Rasanya kembali ke tahun 2019 dimana menulis puisi adalah kesukaanku.
ReplyDeletepuisinya dalam banget dan sangat relatable. Analogi "perjudian" itu pas sekali untuk menggambarkan bagaimana rasanya terus bertaruh perasaan pada seseorang yang belum tentu memilih kita. Bagian tentang "candu" itu jujur banget; kadang kita memang lebih memilih terluka daripada harus berhenti berharap.
ReplyDeletePernah denger kalau cinta itu buta?
ReplyDeleteNah obatnya ternyata logika yang normal ya. Hehehe ...
ketika logika mengambil alih, nalar bisa memutuskan undur diri dari permainan yang dulunya padahal dimulai sendiri. Ukiran nama si dia pun telah ditutup rapat. Semoga di permainan selanjutnya, kalau nalar dan logika yang bekerja muncul pemenang yang tidak lagi ketakutan karena keheningan.
Pemenang sebenarnya
Jika menemukan cinta yang setara dan tepat hidup kita akan indah tetapi jika menemukan cinta yang salah hidup kita akan sengsara
ReplyDeleteIya, iya. Tidak semua cinta mesti kita menangkan. Ada juga cinta yang tetpaksa kira relakan untuk kalah. Ealah ya ampuuun. 😀😀😀
ReplyDeletetapi bener c saat kita memutuskan mengambil langkah dengan mencintai seseorang itu seperti gambling salad hidup. semua serba mungkin. entah kita akan untung atau justru rugi semua serba penuh resiko
ReplyDeleteWah dalem banget mbakkk.. Saya kok ya bayangin ketika pertama kali jatuh cinta dengan pak su. Hihihi.. Tapi jika dipikir memang secandu itu mencintai. Seperti dopamin yang selalu diproduksi. Dan, begitu bersyukur bisa sampai menikah. 🥰
ReplyDelete